Peran Telepon Seluler bagi Home Industry dan Pertanian

Penulis dan Peneliti: Agustinus Hartono, SS

Sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1984, telepon seluler berekspansi menjadi kekuatan baru dalam khazanah pertelekomunikasian Indonesia. Di antara beberapa platform ICT utama, telepon seluler mendominasi teknologi, jenis layanan, kapasitas, jangkauan, bahkan users. Data Departemen Telekomunikasi dan Informatika pada tahun 2007 menegaskan bahwa dari jumlah total 220 juta jiwa penduduk Indonesia, sebanyak 55, 2 juta jiwa (25,1 %) menggunakan telepon seluler, lalu menyusul 36,2 juta jiwa (15,5 %) pengakses televisi, 14,8 juta jiwa (6,7 %) memiliki telepon tetap, dan sebesar 14, 5 juta jiwa (6,6 %) mengakses internet.

Sejarah pertelekomunikasian di Indonesia mencatat bahwa peningkatan drastis jumlah konsumen telepon seluler terjadi sejak tahun 1997, ketika teknologi GSM dengan kartu prabayar tanpa registrasi diperkenalkan oleh Telkomsel, dengan nama Simpati, menyusul Mentari (Satelindo) dan Pro-XL (Excelcom) tahun 1998. Sejak itu, telepon seluler tidak lagi menjadi jargon masyarakat kota saja tetapi digunakan oleh hampir semua lapisan dalam masyarakat di desa-desa. Petani, nelayan, pedagang keliling, dan lain-lain sudah terbiasa menggunakan telepon seluler dalam keseharian mereka. Satu hal yang perlu dicatat bahwa ternyata telepon seluler tersebut tidak hanya dipandang sebagai barang penanda kemewahan dalam masyarakat. Lebih jauh, telepon seluler dimanfaatkan oleh konsumen sebagai alat bantu dalam pekerjaan mereka. Penulis menyebut fenomena penggunaan telepon seluler untuk membantu pekerjaan pada masyarakat di desa-desa ini sebagai kebangkitan masyarakat “agrarian-informatika”.

Sejalan dengan perkembangan drastis ini, penulis melakukan penelitian sederhana tentang kosmologi (jaringan komunikasi), mobilitas, dampak sosial, dan dampak ekonomi penggunaan telepon pada masyarakat agrarian informatika ini. Penelitian ini dilakukan pada beberapa individu dengan latar belakang pekerjaannya masing-masing di 5 daerah yakni: Teddy Setiadi (seorang pengelola home industry konveksi) di Nagari Pasia, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat; Ardianto (pengelola lahan pertanian dan perkebunan) di Desa Potu, Kecamatan Dompu, Nusa Tenggara Barat; Sugiyo (pengusaha gula semut) di Desa Penggung, Hargoredjo, Kokap, Kulonprogo, DKI Yogyakarta; Hadiardjo (pengrajin lidi) di Desa Gamplong, Sentolo, DKI Yogyakarta; dan Sarul (pembuat tembakau) di Jorong Aur, Nagari Barulag, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Ardianto (Pengelola Lahan Pertanian dan Perkebunan)

“Dengan menggunakan telepon seluler, saya dapat menjual hasil kebun ke Manggalewa, Dompu, Bima, Mataram, dan Bali tanpa harus mengeluarkan uang untuk pergi ke sana. Biaya perjalanan dapat diatasi dengan adanya telepon seluler.

Pemanfaatan telepon seluler dan pekerjaan Ardianto)

(Foto 1: Pemanfaatan telepon seluler dan pekerjaan Ardianto)

Ardianto (28 tahun) adalah seorang pengelola lahan pertanian dan perkebunan keluarga. Lahan yang dikelolanya terletak di dua lokasi yakni lahan perkebunan di Desa Lanci Jaya, Kecamatan Manggelewa (20 km dari Dompu) dengan luas 2 ha, dan ditanami sawo, kacang tanah, jagung, kedelai, bawang merah, dan singkong serta lahan pertanian seluas 4 ha di Desa Tente Mbawi, Kecamatan Dompu. Perawatan kebun dipercayakan kepada seorang penjaga bernama Pak Ahmad karena tempat tinggal Ardianto dan kebun agak jauh. Masing-masing tanaman memiliki masa panennya sendiri. Biasanya, oleh Pak Ahmad atau Ardianto sendiri, hasil kebun ini dijual ke pasar Soriutu, Manggelewa atau Pasar Dompu. Selain dijual langsung ke pasar, hasil bumi ini dijual pula ke penduduk sekitar yang kebanyakan adalah para penadah dari Bima, Lombok, Mataram, dan Bali atau dibawa langsung ke para penadah dan penjual di tempat-tempat tersebut. Menurut Ardianto, setiap tahunnya, panen sawo, kacang tanah, jagung, kedelai masing-masing sebanyak 2-4 ton dalam satu kali musim panen.

Sementara, lahan pertanian di desa Tente-Mbawi ditanami padi dan dimanfaatkan sebagai lokasi pembuatan batu bata. Padi dipanen 2 kali setahun dan dijual ke para penadah di Dompu, Manggelewa, Bima, Mataram, Lombok, dan Bali. Lahan ini dikelola sendiri oleh Ardianto dengan mengupahi para buruh yang dibayar Rp 10.000–15.000/hari pada musim tanam dan panen. Sementara, pengolahan batu bata umumnya dikerjakan tidak sepanjang tahun tetapi hanya jika ada pesanan untuk menghindari resiko penjualan. Tanah pertanian di Tente Mbawi ini banyak mengandung tanah liat dan gamping. Tanah ini dipakai untuk membuat batu bata bangunan. Jadi, Ardianto hanya membayar para pekerja sementara bahannya dapat digali di lokasi pertanian tersebut. Tetapi jika pesanan meningkat, Ardianto membeli dan mendatangkan bahan baku tanah liat dan gamping dari tempat lain. Dalam sehari, para pekerja dapat menghasilkan 2000-3000 batu bata. Harga satu bata bata adalah Rp 300,- sampai Rp 500,-.

Hasil perkebunan, hasil pertanian (padi), dan batu bata merupakan sumber penghasilan keluarga Ardianto. Namun, persoalan terbesar yang dia hadapi adalah pendistribusian dan penjualan hasil bumi dan batu bata ini. Jika dia ingin menjual hasil buminya dengan harga menjanjikan maka dia harus pergi ke luar Pulau (Lombok, Mataram, atau Bali). Tetapi, penjualan ke luar pulau ini membutuhkan biaya perjalanan dan pengangkutan hasil bumi yang sangat tinggi, sekitar 2 juta per perjalanan dengan waktu yang sangat lama (24 jam menggunakan angkutan darat). Jika dia ingin menghindari biaya perjalanan yang tinggi, dia terpaksa menjual hasil buminya kepada para penadah tetapi dengan harga murah. Para penadah, umumnya, membeli hasil bumi dengan harga yang sangat murah. Persoalan ini dialami Ardianto selama bertahun-tahun. Selain itu, dia tidak mendapatkan banyak informasi perkembangan harga hasil bumi yang tepat dan cepat. Berbagai persoalan ini menyebabkan keuntungan yang diperolehnya sangat minim.

Ardianto dalam suatu perjalan bisnis ke Lombok dan Denpasar)

(Foto 2: Ardianto dalam suatu perjalan bisnis ke Lombok dan Denpasar)

Kondisi mulai berubah sejak tahun 2005. Pada saat itu, beberapa provider telekomunikasi membangun tower di Dompu dan Manggelewa. Ardianto membeli sebuah telepon seluler dan mulai menggunakannya dalam bisnis sejak itu. Penggunaan telepon seluler ini, bagi Ardianto, mengatasi berbagai persoalan yang dia hadapi. Dia tidak lagi menjual hasil bumi dengan harga murah ke penadah tetapi ke para penjual di luar pulau. Bedanya, dia tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi untuk perjalanan ke Mataram, Bali, Lombok. Dengan menggunakan telepon seluler, dia cukup berkomunikasi dengan para pedagang saat hendak mengirimkan hasil bumi. Keberangkatan keluar pulau benar-benar dibatasi hanya untuk kegiatan bisnis penting saja. Telepon seluler, bagi Adrianto, membantu mengurangi biaya perjalanan tanpa harus kehilangan kontak dengan para pedagang.

tempat penitipan hasil bumi di Pasar Dompu, panen padi di Tente Mbawi, tempat pembuatan batu bata di Tente Mbawi)

(Foto 3: Konteks pekerjaan Ardianto. Dari kiri ke kanan: tempat penitipan hasil bumi di Pasar Dompu, panen padi di Tente Mbawi, tempat pembuatan batu bata di Tente Mbawi)

Selain mengurangi biaya perjalanan, dengan hanya mengeluarkan uang Rp 200.000,- sampai Rp 300.000,- per bulan untuk membeli pulsa, Ardianto dapat mengetahui secara tepat tentang perubahan harga hasil bumi di tempat lain, informasi mengenai biaya perjalanan, dapat melakukan komunikasi dengan para pedagang secara mobile di tengah perjalanan, serta dapat mengembangkan relasinya dengan rekan bisnis baru. Berbagai kemudahan ini, pada akhirnya, meningkatkan pendapatan ekonomi Ardianto. Pria ini mengaku, setiap tahun dia mendapatkan keuntungan bersih sekitar 50 juta setiap tahun. Keuntungan ini cukup untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Sarul (Pembuat Tembakau)

“Karena telepon seluler, saya bisa dengan cepat menghubungi dan dihubungi oleh penadah dan para petani tembakau. Sehingga, saya memperoleh tembakau yang baik dari petani dan orderan dari para penadah tidak jatuh ke tangan pembuat tembakau lain.”

Sarul sedang membuat tembakau di sebuah gubuk sederhana  di Jorong Aur, Nagari Barulag, Sumatera Barat)

(Foto 4: Sarul sedang membuat tembakau di sebuah gubuk sederhana di Jorong Aur, Nagari Barulag, Sumatera Barat)

Sarul (51 tahun) adalah pembuat tembakau di Jorong Aur, Nagari Barulag, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pekerjaan ini sudah digeluti pria empat (4) anak ini sejak tahun 1995. Di Jorong Aur sendiri, Sarul bukan satu-satunya penduduk yang berprofesi sebagai pembuat tembakau. Namun, usaha yang dilakukan Pak Sarul merupakan satu-satunya tempat pembuatan tembakau yang eksis berkat keuletannya.

Setiap hari, Pak Sarul sudah mulai bekerja pkl. 08.00 di sebuah gubuk sederhana di daerah persawahan yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Bahan utama tembakau adalah tembakau mentah yang dibeli Pak Sarul dari para petani tembakau di jorongnya atau petani tembakau dari jorong-jorong sekitar. Tembakau mentah tersebut disimpan beberapa hari. Tembakau yang sudah berwarna kuning adalah tembakau yang siap diiris. Pengirisan menggunakan pisau dan alat khusus. Setelah diiris dengan sangat tipis, tembakau tersebut diluruskan agar tidak kusut dan warnanya merata. Proses pemotongan ini tidak memakan waktu lama.

proses pembuatan tembakau)

(Foto 5: proses pembuatan tembakau)

Irisan tembakau yang sudah diluruskan ini kemudian direndam dalam air gula merah selama satu hari satu malam untuk mengharumkan dan memberi cita rasa pada tembakau. Setelah itu, tembakau yang sudah dicampur dengan gula merah tersebut dijemur sampai kering. Jangka waktu penjemuran bergantung pada sinar matahari. Setelah dijemur selama beberapa hari, tembakau tersebut diluruskan kembali. Tembakau yang tidak dapat diluruskan akan dibuang karena dianggap tidak berkualitas. Dalam seminggu, Pak Sarul menghasilkan sekitar 70 kg tembakau. Tembakau ini dijual ke para pelanggan atau penadah di Tebe Patah dan Payakumbuh yang sudah mengenalnya sejak lama.

Persoalan yang dihadapi oleh Sarul adalah keterpencilan. Jorong Aur, yang berpenduduk sekitar 266 KK, susah mendapatkan sarana transportasi dan tidak memiliki sarana komuniasi public (fixed line atau warnet). Kendaraan yang biasa lewat di Jorong ini adalah ojeg atau kendaraan angkut hasil bumi yang disewa setiap minggu. Pak Sarul tidak mengetahui kapan para penadah atau pedagang membutuhkan tembakau olahannya dan berapa jumlah yang dibutuhkan. Pada saat kendaraan angkut datang tiap minggu ke jorongnya, Pak Sarul harus ikut mengantarnya ke Payakumbuh atau Tebe Patah untuk memastikan jumlah tembakau yang dibutuhkan.

Keadaan berubah sejak tahun 2004. Pada saat itu operator telepon seluler membangun tower di Barulag yang berjarak sekitar 5 KM dari Jorong Aur. Menyusul perkembangan tersebut, Pak Sarul membeli sebuah telepon genggam yang terutama dipakai untuk membantu penjualan tembakaunya. Telepon seluler ini sangat jarang dibawa ke tempat kerja. Biasanya, ia menitipkan atau menyimpannya di rumah. Meskipun disimpan di rumah, keluarga Pak Sarul tidak menghabiskan pulsa ayah mereka untuk urusan lain. Telepon seluler ini benar-benar diperuntukkan bagi kelancaran usaha Pak Sarul. Dalam sebulan, ia mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000,- untuk membeli pulsa di Tebe Patah atau Payakumbuh. Alasannya, di desa ini tidak ada counter pulsa.

Pengangkutan tembakau dan hasil bumi lainnya ke Tebe Patah dan Payakumbuh)

(Foto 6: Pengangkutan tembakau dan hasil bumi lainnya ke Tebe Patah dan Payakumbuh)

Telepon seluler, diakui Pak Sarul, sangat membantu dalam memperlancar usahanya. Pada saat stok tembakau mentah habis, ia dengan cepat memesan ke petani tembakau. Hal ini dilakukannya supaya tembakau berkualitas tidak jatuh ke pembuat tembakau lain. Selain itu, sejak memiliki telepon seluler, Pak Sarul dengan mudah dihubungi oleh penadah dan pedagang jika stok habis. Terkadang, Pak Sarul berinisiatif menelepon ke pedagang atau penadah untuk menanyakan ketersediaan stok, harga, jumlah tembakau yang dibutuhkan, dan waktu pengiriman. Komunikasi seperti ini menumbuhkan rasa saling percaya sehingga orderan tidak jatuh ke pembuat tembakau lain. Selain itu, bagi Pak Sarul, penggunaan telepon seluler menciptakan efektivitas kerja, penghematan biaya, ketepatan waktu, dan penambahan orderan. Dalam seminggu, Pak Sarul mendapat banyak orderan sehingga dia mempekerjakan Firman (26 tahun) untuk membantunya. Dalam seminggu, Pak Sarul mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 500.000,sampai Rp 700.000,-.

Sugiyo (Home Industry Gula Semut)

“Pemanfaatan sarana ICT, khususnya telepon seluler meningkatkan penghasilan, membawa lapangan kerja bagi masyarakat, dan membuat gula semut ini terkenal sampai di luar negeri.”

Sugiyo sedang memegang telepon seluler. Telepon seluler ini sangat berperan  dalam bisnis gula semut yang dikembangkannya)

(Foto 7: Sugiyo sedang memegang telepon seluler. Telepon seluler ini sangat berperan dalam bisnis gula semut yang dikembangkannya)

Sugiyo (45 tahun) adalah seorang pemilik home industry gula semut di Desa Penggung, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, DKI Yogyakarta. Desa ini sudah dilalui berbagai jenis kendaraan namun penduduknya masih sedikit. Menurut data, desa ini hanya dihuni oleh 60 KK. Umumnya, penduduk mengelola sawah dan ladang sendiri-sendiri. Penduduk yang tidak mempunyai tanah bekerja sebagai buruh tani pada mereka yang memiliki lahan dengan gaji Rp 15.000,00 sampai 20.000,00 per hari.

Tingkat pendidikan masyarakat di desa ini masih tergolong rendah. Rata-rata penduduk hanya lulus SMP, sebagian SMA, dan beberapa orang saja yang sampai di jenjang sarjana. Selebihnya, terutama penduduk lanjut usia, hanya menempuh pendidikan sampai tingkat SD. Tingkat pendidikan yang masih minim terkadang mempengaruhi pola hidup masyarakat. Masyarakat umumnya hidup sederhana. Selain karena keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan, mereka pada umumnya telah merasa cukup dengan apa yang mereka punya.

Namun tidak demikian halnya dengan Sugiyo. Sugiyo beralih dari profesi sebagai tani dan menggeluti bisnis gula semut. Bisnis ini dmulai sekitar tahun 1997. Pada tahun tersebut, Sugiyo menjadi ketua kelompok tani. Pada saat menjabat sebagai ketua tani ini dia terdorong untuk melakukan inovasi mengubah gula jawa menjadi gula semut. Sugiyo, dengan demikian, adalah pelopor bisnis gula semut yang belum dikembangkan masyarakat pada saat itu.

Proses pembuatannya cukup mudah. Gula jawa yang telah dicetak, kembali dimasak selama kurang lebih satu jam hingga menjadi juruh. Setelah itu, gula tersebut diaduk-aduk dan diberikan campuran parutan empon-empon (kunyit, jahe, temu, lengkuas) sesuai dengan selera. Larutan juruh itu terus diaduk-aduk hingga kering. Apabila sudah kering, larutan tersebut dilembutkan dengan batok kelapa yang masih bulat, yand disebut beruk, hingga lembut. Setelah itu, adonan dimasukan ke dalam ayakan (saringan) dari kawat sehingga akan keluar butir-butir halus yang telah berasa empon-empon. Langkah selanjutnya adalah kembali memasaknya tanpa minyak supaya lebih halus dan harum.

Beberapa pekerja sedang membuat gula semut)

(Foto 8: Beberapa pekerja sedang membuat gula semut)

Semula, bisnis gula semut Sugiyo tidak mendapatkan respon dari masyarakat sekitar. Karena itu, Sugiyo menjual gula semut tersebut ke Kota Yogyakarta. Pada tahun 2005, Sugiyo mengembangkan pemasaran gula semut ke Jakarta, Cilacap, Bandung, Surabaya, Kalimantan, Jambi, Medan, dan Bali. Di daerah-daerah ini, Sugiyo memiliki para pelanggan tetap. Pada tahun 2005, industri gula semut Sugiyo mencetak rekor muri. Pencapaian rekor muri ini merupakan sebuah prestasi luar biasa yang berasal dari desa terpencil dan pelosok. Sejak saat itu, omzet yang diperolehnya berlipat-lipat. Bahkan, pada tahun 2007, gula semut Sugiyo mendapat perhatian para peneliti dari Belanda, Jepang, AS, Hongkong, dan Malaysia. Lambat laun, mereka tidak hanya datang sekedar meneliti, akan tetapi sudah berusaha menyebarkannya. Karena itulah gula semut milik Sugiyo ini telah tersebar di beberapa agen di negara-negara tersebut.

Pemanfaatan berbagai sarana ICT, seperti internet dan telepon rumah, untuk mengembangkan usaha)

(Foto 9: Pemanfaatan berbagai sarana ICT, seperti internet dan telepon rumah, untuk mengembangkan usaha)

Untuk lebih menarik pelanggan, Sugiyo juga selalu melakukan inovasi pada kemasan. Semula kemasan masih berbentuk polos, tapi sekarang, ia mencoba dengan membuat bungkusan yang lebih menarik dengan ukuran yang berbeda. Untuk menarik pembeli, bungkus gula semut ditulisi manfaat dan khasiat masing-masing. Ada beragam rasa yang ditawarkan: netral, jahe, kunir, kunir putih, kencur, temulawak, temu kunci, dan lengkuas. Adapun harga, berkisar dari Rp 1.500,00 hingga Rp 20.000,00. Selain itu, Sugiyo juga merambah ke bisnis lain yakni VCO (Virgin Coconut Oil) dan Sirup Gula Semut. Hanya saja bisnis ini kurang begitu menjanjikan karena memang telah dikembangkan di berbagai tempat, terutama VCO. Meski demikian, ia tetap memproduksinya terutama untuk melayani para pelanggan dan pemesan.

Menurut Sugiyo, kemajuannya dalam mengembangkan bisnis gula semut terutama disokong oleh pemanfaatan sarana ICT. Sejak tahun 2000, ia sudah memulai menggunakan berbagai sarana seperti telepon seluler, telepon flexi, internet, dan surat kabar. Dari berbagai sarana ICT ini, telepon seluler dan internet merupakan dua sarana yang paling berperan. Internet dipakai oleh Sugiyo untuk melihat berbagai pola bungkusan gula semut, sementara telepon seluler digunakan untuk berkomunikasi dengan para penjual bahan baku, pembeli, dan pelanggan. Menurut penuturannya, dia adalah orang pertama di kampungnya yang membeli telepon seluler. Dia menghabiskan dana sebesar Rp 1.000.000,- per bulan untuk membeli pulsa.

Dengan menggunakan telepon seluler ini ia melakukan komunikasi yang intens sehingga terbentuk sebuah jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi ini tidak stagnan tetapi terus berkembang sejalan dengan perkembangan bisnis itu sendiri. Sugiyo dapat menghubungi berbagai rekan bisnisnya di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dampak jauh pemaksimalan telepon seluler adalah efisiensi kerja, ketepatan waktu, peningkatan jumlah pesanan, serta minimalisasi biaya. Semua kemudahan ini pada akhirnya memperbesar penghasilan Sugiyo. Menurut Sugiyo, dia dapat menghasilkan omzet rata-rata Rp 500.000,00 per hari dengan target penjualan sebanyak 2 kwintal. Dengan kondisi home industry yang mapan seperti itu Sugiyo juga telah berhasil membuka lapangan kerja baru bagi penduduk di desanya. Sebanyak 12 orang perempuan bekerja secara rutin di tempatnya. Mereka diberi upah Rp.1.300,00/jam.

Hadiardjo (Pengrajin Lidi)

“Untuk berkomunikasi ke berbagai daerah, saya menghabiskan pulsa rata-rata Rp.500.000,00 setiap bulan. Meskipun dana yang keluar cukup besar, saya merasa lebih ekonomis, praktis dan mudah. Kebiasaan ‘menghabiskan uang di wartel’ sudah terhenti. Dengan telepon seluler ini, kapan dan dimana pun saya dapat menghubungi para pelanggan atau pembeli.”

Hadiardjo, seorang pebisnis kerajinan dari lidi di Desa Gamplong,Yogyakarta)

(Foto 10: Hadiardjo, seorang pebisnis kerajinan dari lidi di Desa Gamplong,Yogyakarta)

Desa Gamplong, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta adalah sebuah desa sentra kerajinan. Sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai pengrajin dan memiliki home industry sendiri. Status sebagai desa sentra kerajinan ditopang oleh berbagai kemajuan pembangunan infrastruktural, seperti transportasi dan telekomunikasi. Malah, sebuah operator telepon membangun tower telekomunikasi di daerah ini.

Salah satu pengrajin yang cukup sukses di desa ini adalah Hadiardjo. Meskipun hanya menempuh pendidikan sampai SD, Bapak dengan dua anak ini (Rina <27 tahun> dan Susanti <24 tahun>) sudah memiliki home industry sendiri, yakni kerajinan dari lidi. Bisnis ini sudah dikembangkannya selama puluhan tahun. Lidi dikembangkannya menjadi berbagai kerajinan seperti seperti stagen, benang, tas, dompet, taplak meja, tempat tisu dan barang lainnya.

Foto Desa Gamplong sebagai sentra kerajinan. Tower telekomunikasi sudah dibangun di daerah ini)

(Foto 11: Foto Desa Gamplong sebagai sentra kerajinan. Tower telekomunikasi sudah dibangun di daerah ini)

Pembuatan lembaran lidi ini memang tidak gampang. Lidi-lidi yang digunakan adalah lidi aren yang dipasok dari daerah Cilacap dan Ciamis. Selain lidi, salah satu bahan yang digunakan untuk membuat tenunan adalah Eceng Gondok. Eceng Gondok dibeli dalam kondisi kering dan siap tenun. Biasanya, Eceng Gondok dibeli dari Pantai Trisik yang jaraknya tidak terlalu jauh. Mula-mula, lidi-lidi ini dimasak selama 2 jam agar lentur kemudian dikeringkan selama 3 jam. Setelah itu, lidi-lidi tersebut diberi warna menggunakan wentar. Setelah proses awal ini selesai, lidi dan Eceng Gondok dianyam untuk membentuk berbagai kerajinan.

Hasil kerajinan ini dipasarkan di berbagai daerah. Awalnya, kerajinan ini dipasarkan di daerah Yogyakarta saja. Lama-kelamaan, jaringan pelanggan meluas. Sejak tahun 2000, kerajinan milik Hadiardjo ini dipesan oleh pelanggan dari hampir semua kota-kota besar di Indonesia. Permintaan terbesar berasal dari Bali. Setiap minggu dia harus mengirimkan kerajinan ke Bali atas permintaan pelanggan di sana. Selain bersifat nasional, pemasaran dan jaringan bisnis Hadiardjo juga bersifat internasional. Sejak tahun 2003, kerajinan lidi sudah bisa diekspor ke luar negeri seperti Amerika dan Singapura. Pemasaran ke luar negeri ini dikelola oleh Rina, anak tertua Hadiardjo.

Foto-foto proses pembuatan kerajinan dari lidi di home industry milik Hadiardjo)

(Foto 12: Foto-foto proses pembuatan kerajinan dari lidi di home industry milik Hadiardjo)

Menurut penuturan Rina, keberhasilan bisnis kerajinan ini disokong terutama oleh telepon seluler. Sebelum akses telepon seluler masuk, ia begitu kesulitan dalam memasarkan produknya. Setiap hari ia harus pergi ke wartel untuk menghubungi pelanggan. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan karena, selain mengeluarkan biaya yang sangat tinggi, jaringan bisnisnya tidak berkembang. Hadiardjo sendiri susah dihubungi jika pelanggan membutuhkan stok atau mengajukan komplain.

Kerajinan dari lidi yang siap dipasarkan)

(Foto 13: Kerajinan dari lidi yang siap dipasarkan)

Tahun 2001, keadaan sedikit berubah. Sebuah operator telepon seluler membangun tower telekomunikasi di desa tersebut. Pembangunan infrastruktural ini sangat membantu warga terutama dalam berkomunikasi. Demikian halnya dengan Hadiardjo atau Rina. Bisnis kerajinan dari lidi yang mereka kembangkan sedikit banyak bergantung pada telepon seluler ini. Hadiardjo dan Rina memilih telepon seluler sebagai telekomunikasi utama dalam mengembangkan bisnis mereka. Setiap bulannya, mereka menghabiskan uang untuk membeli pulsa sebanyak Rp 500.000,- sampai Rp 1.000.000,-. Meskipun dana yang keluar cukup besar, Rina mengaku lebih ekonomis, praktis, dan mudah. Kebiasaan ‘menghabiskan uang di wartel’ sudah terhenti.

Pemanfaatan telepon seluler mempermudah Hadiardjo dalam melakukan kesepakatan bisnis dengan para pelanggannya atau memesan bahan baku lidi di Cilacap dan Ciamis serta penjual Eceng Gondok di Pantai Trisik. Pemesanan bahan baku dan penjualan produk kerajinan dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan dapat dilakukan dimana saja (mobile). Relasi yang baik dan intens ini, pada gilirannya, berdampak pada perkembangan jaringan yang semakin meluas, efisiensi kerja, mobilitas yang tinggi, peminimalisiran biaya yang tak perlu, serta peningkatan orderan dan penghasilan.

Sekarang, sentra kerajinan lidi milik Hadiardjo sudah memiliki kurang lebih 60 karyawan putra dan putri. Kebanyakan pekerja ini adalah ibu rumah tangga dari Bantul, Wonosari, dan daerah setempat. Untuk kenyamanan bekerja, Hadiardjo menyediakan bangunan khusus untuk menenun. Di bangunan inilah ibu-ibu rumah tangga tersebut memainkan keterampilan tangannya merangkai lidi beraneka warna menjadi tenunan yang indah.

Teddy Setiadi (Pengelola Home Industry Konveksi)

“Bagi saya, telepon seluler berperan penting. Tanpa sarana ini, usaha bordiran atau konveksi bisa mati. Teepon seluler membantu terutama dalam berkomunikasi dengan pelanggan dan pemilik usaha bordiran ini. Selain itu, telepon seluler sangat membantu dalam menekan biaya perjalanan, pengangkutan hasil ke para pemesan, dan terutama untuk menyesuaikan pesanan yang diinginkan dengan hasil cetakan.”

Teddy Setiadi, seorang pengelola home industry konveksi di Nagari Pasia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat)

(Foto 14: Teddy Setiadi, seorang pengelola home industry konveksi di Nagari Pasia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat)

Nagari Pasia merupakan salah satu nagari yang terdapat di Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Letaknya sangat strategis, yaitu di lintasan utama jalur bus antarkota, dan merupakan jalur penghubung antara Kabupaten 50 Kota, Kota Madya Bukit Tinggi, dan Kabupaten Agam. Letaknya hanya belasan kilo meter dari Bukit Tinggi. Mengingat Bukit Tinggi sebagai salah satu kota sentra di Sumatera Barat, maka Nagari Pasia, yang terletak tidak terlalu jauh dari Bukit Tinggi, menjadi salah satu nagari pendukung dan berkembang dengan pesat.

Jika pergi ke Nagari Pasia kita akan terheran-heran melihat begitu banyak home industry konveksi. Di nagari dengan jumlah penduduk 2122 jiwa atau 518 KK ini terdapat sekitar 75 home industry konveksi. Tidak heran jika di gerbang masuk nagari terdapat tulisan “Anda Memasuki Kawasan Home Industry Konveksi”. Salah satu home industry yang terdapat di Pasia adalah home industry milik Hj. Anto yang dikelola oleh Teddy Setiadi (28 tahun), adiknya. Sebagai pengelola, Teddy sebenarnya berfungsi semacam “mediator” antara berbagai pihak yang terlibat di dalam usaha ini. Ia memediasi komunikasi antara para pemesan dengan pemilik, antara pemilik dengan para karyawan, dan juga memediasi komunikasi dengan distributor, pemilik kendaraan muat barang, penjual bahan baku pembuatan bordiran, dan lain sebagainya.

Bahan-bahan dasar bordiran hanya berupa benang, kain, dan kertas. Bahan-bahan dasar ini diperoleh Teddy dari para pedagang partai besar di Bukit Tinggi, Padang, dan Jakarta. Stok bahan dasar ini dipersiapkannya untuk dua (2) bulan, dan sebelum habis dia sudah membelinya kembali untuk stok bulan berikutnya. Pemilihan bahan dasar ini membutuhkan kecermatan untuk memperoleh bahan dasar yang berkualitas baik. Selain bahan-bahan dasar di atas, alat-alat lain yang mutlak ada adalah mesin konveksi (yang memiliki sistem komputerisasi) dan mesin diesel listrik (dipakai sesekali untuk menggantikan tenaga elektrisitas).

Proses pembuatan bordiran)

(Foto 15: Proses pembuatan bordiran)

Setelah pemilihan bahan baku berkualitas, Teddy bersama beberapa karyawan khusus menentukan pola atau gambar yang diinginkan oleh pemesan. Biasanya, para pemesan sendiri yang menentukan pola atau gambar, namun Teddy juga mengajukan beberapa pola yang lagi trend. Teddy mempersiapkan berbagai pola dengan mengaksesnya di internet, Dia mengakses pola tersebut di internet terdekat, yaitu di Bukit Tinggi. Setelah pola ini disepakati, dibuat sketsanya pada kertas. Beberapa karyawan memiliki keahlian dalam mensketsa pola pada kertas. Hasil buraman pola pada kertas akan ditunjukkan kembali pada pemesan untuk penyesuaian akhir. Sketsa yang disepakati ini kemudian diformat pada komputer mesin konveksi. Sketsa inilah yang kemudian dicetak komputer pada kain yang telah disiapkan.

Mesin cetak membutuhkan waktu selama 1 jam untuk memproses dan mencetak sketsa. Jika satu (1) mesin cetak memiliki sepuluh (10) wadah, maka dalam waktu kerja 10 jam akan dihasilkan sekitar 100 sulaman pada kain. Home industry Teddy memiliki enam (6) unit mesin cetak dengan masing-masing unit memiliki sepuluh (10) wadah cetak. Maka, dalam sehari, enam (6) unit tersebut akan menghasilkan sekitar 600 sulaman. Satu mesin cetak biasanya diawasi oleh dua (2) orang karyawan. Elektrisitas sangat dibutuhkan dalam proses pencetakan. Karena itu, untuk mengantisipasi listrik padam, Teddy menyiapkan mesin diesel listrik atau generator.

Sulaman pada kain masih berupa bentuk awal setengah jadi. Hasil ini kemudian diolah ke tahap selanjutnya untuk menghasilkan sesuatu. Teddy biasanya berkonsultasi dengan pemesan tentang barang apa yang diinginkan dari sulaman tersebut. Sulaman ini dapat menjadi hiasan pada baju, taplak meja, kerajinan hias, dan lain sebagainya. Proses finishing ini dikerjakan oleh para karyawan tergantung pada keahlian masing-masing. Hasil yang bervariasi dan menarik merupakan modal yang sangat besar untuk laku dipasarkan. Karena itu, sebelum mencetak dalam jumlah banyak, Teddy mencetak beberapa contoh untuk ditunjukkan kepada pemesan.

Barang-barang jadi berupa baju, taplak, hiasan, sapu tangan, dan lain sebagainya kemudian di-packing dan siap diantarkan ke pemesan. Teddy bertugas menghubungi jasa sewa angkutan jika mobil yang dimiliki Hj. Anto sedang dipakai untuk urusan lain. Pendistribusian atau pengantaran barang dilakukan sendiri oleh Teddy untuk memastikan barang tersebut sampai ke pemesan.

Hasil bordiran dalam bentuk baju yang siap dipasarkan dan salah satu tempat pemasaran di Bukit Tinggi)

(Foto 16: Hasil bordiran dalam bentuk baju yang siap dipasarkan dan salah satu tempat pemasaran di Bukit Tinggi)

Pemesan yang kebanyakan adalah para pedagang di Bukit Tinggi, Padang, atau Jakarta hanya menerima bersih hasil yang sudah jadi tersebut di tempatnya. Para pemesan ini biasanya memesan dalam partai besar untuk dijual kembali per barang atau secara grosir ke end users. Sampai sekarang, Teddy dan usaha konveksinya belum mendapat pemesanan dari luar negeri.

Menurut Teddy, salah satu sarana krusial yang mendukung dia dalam proses pemesanan sampai pemasaran adalah telepon seluler. Selain telepon seluler, telepon rumah (fixed line) dan internet juga merupakan sarana ICT yang membantu meskipun dengan intensitas penggunaan yang lebih sedikit dibandingkan dengan telepon seluler. Jaringan komunikasi teddy sangat luas. Dia harus berkomunikasi dengan karyawan, pemilik home industry, penjual bahan baku, pemesan produk di Bukit Tinggi, Padang, dan Jakarta, pemilik mobil sewa angkut, serta teknisi listrik. Telepon seluler merupakan sarana ICT yang tepat untuk komunikasi dengan karakter pekerjaan yang memiliki jaringan luas seperti ini. Karena itu, meskipun menghabiskan uang sebesar Rp 1.000.000,- per bulan untuk membeli pulsa, Teddy tetap merasa puas.

Teddy selalu berkomunikasi dengan semua pihak yang terlibat di dalam bisnis ini. Bagi pria lulusan teknik elektro di Jakarta ini, kepercayaan karyawan, pemilik home industry, pedagang, dan pelanggan adalah hal utama penentu kesuksesan bisnis. Karena itu, dia selalu berkomunikasi dengan mereka. Pengorbanannya ini mendapatkan dampak positif. Orderan dari pelanggan semakin meningkat. Teddy mengakui, dalam sebulan, home industry ini dapat menghasilkan omzet bulanan sebesar Rp 20.000.000,- dari satu mesin, atau Rp 120.000.000,- dari enam (6) mesin yang dimilikinya.

Lima (5) jenis pekerjaan dalam contoh kasus di atas digolongkan atas dua (yakni), independent workers dan small businessmen. Independent workers adalah individu-individu yang membuka usaha perseorangan, ruang lingkup pekerjaan terbatas, dan tidak memiliki karyawan. Adrianto (pengelola lahan pertanian dan perkebunan) dan Sarul (pembuat tembakau) termasuk dalam kategori independent workers ini. Sementara small businessman adalah individu yang membuka usaha perseorangan, ruang lingkup pekerjaan luas, dan memiliki sejumlah karyawan. Para pemiliki home industry, seperti Hardiardjo (home industry lidi), Sugiyo (gula semut) dan Teddy (konveksi) termasuk dalam kelompok small businessman ini. Kami memilih dua kategori pekerjaan tersebut karena paling banyak digeluti masyarakat, khususnya di daerah pedesaan.

Dalam dua jenis pekerjaan tersebut di atas, salah satu faktor krusial penentu keberhasilan usaha adalah pemaksimalan sarana telekomunikasi dan informatika, khususnya telepon seluler. Semakin tinggi tingkat aksesibilitas individu atau masyarakat terhadap ICT, maka semakin besar pula kemungkinan kesuksesan dalam pekerjaannya. Sebagai contoh, Sarul dan Ardianto (para independent workers) hanya bisa mengakses atau memanfaatkan telepon seluler sehingga keberhasilan usaha yang mereka kembangkan tidak seberhasil pekerjaan yang digiatkan oleh Teddy, Sugiyo, dan Hardiadjo (small businessman). Para small businessman sudah bisa mengakses dan memanfaatkan berbagai sarana ICT, khususnya telepon seluler dan internet, dalam mengembangkan usaha mereka.

Tetapi, meskipun tingkat aksesibilitas terhadap berbagai sarana ICT berbeda-beda, telepon seluler sendiri menjadi semacam standar bagi masyarakat atau individu dalam mengembangkan usaha atau bisnis. Suatu usaha atau bisnis memiliki beberapa fondasi informatif-komunikatif krusial, seperti informasi harga, pemesanan bahan baku, pemasaran, dan pengembanganan jaringan bisnis, yang bersifat cepat, tepat, dan efektif. Telepon seluler memenuh tuntutan ini karena sifatnya yang mobile, cepat, dan efektif. Sinergi antara kebutuhan mendasar sebuah usaha atau bisnis dengan kapasitas telepon seluler membuat telepon seluler paling banyak dipakai oleh masyarakat yang memiliki jaringan kontak bisnis. Telepon seluler merupakan standar mutlak bagi semua jenis pekerjaan meskipun intensitas penggunaannya tergantung pada jenis pekerjaan. Ardianto dan Sarul, misalnya, menghabiskan dana kurang dari Rp 500.000,- per bulan untuk membeli pulsa, sementara Sugiyo, Hardiardjo, dan Teddy menghabiskan dana lebih dari Rp 500.000,- per bulan.

Dampak lain yang khas dari pemanfaatan telepon seluler dalam semua jenis pekerjaan adalah terbentuknya sebuah jaringan komunikasi atau interaksi bisnis. Sifat jaringan komunikasi bisnis ini dipengaruhi oleh karakter telepon seluler. Karakter telepon seluler yang mobile, misalnya, membentuk jaringan komunikasi yang tidak terbatas dan selalu berkembang. Baik independent workers maupun small businessman dapat memperluas jaringan bisnis atau jaringan pelanggannya berkat telepon seluler.

Hal terakhir yang perlu dicatat adalah bahwa pemaksimalan telepon seluler dalam bisnis atau pekerjaan merupakan elemen kunci untuk mengeskalasi penghasilan individual dan perkembangan ekonomi keluarga. Sejak menggunakan telepon seluler, penghasilan Ardianto, Sarul, Hadiardjo, Sugiyo, dan Teddy meningkat drastis. Bahkan, para small businessman mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Eskalasi ekonomi ini, tidak bisa dipungkiri, merupakan dampak lanjut dari pemanfaatan telepon seluler. Penggunaan telepon seluler meminimalisasi biaya perjalanan bisnis. Kontak bisnis, perjanjian pengiriman barang, penawaran komoditas atau produk, dan lain-lain dapat dilakukan hanya dengan menggunakan telepon seluler atau hanya dengan mengeluarkan uang/pulsa sedikit. Selain itu, penggunaan telepon seluler membawa dampak seperti peningkatan efektivitas dan efisiensi kerja serta peningkatan kredibilitas dan kepercayaan pelanggan atau pembeli.

(Naskah ini diikutkan dalam XL AWARD 2008)

Penulis

Agustinus Hartono, SS (28 tahun)

Penulis dan Peneliti di The Blora Institute, Jakarta

Jln. Veteran I No. 26, Gambir, Jakarta Pusat, 10110

081321971962

2 Komentar

  1. Paek berkata,

    17 Januari 2009 pada 9:59 pm

    Mobile Phone atau yang paling akrab disebut HP bahkan menjadi Tuhan baru dalam agama…lihat betapa patuhnya setiap orang pada bunyi di hp di setiap perayaan agama……….sebuah irasionalitas dalam kemodernan……: Budak menjadi Tuan…..

  2. ssss berkata,

    12 Maret 2010 pada 1:06 pm

    ma kasih iaaa mas …..
    informasi na sangat berguna bagi nusa dan bangsa,,,
    klo telepon seluler itu penting


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.