Kerangka Besar Deleuze & Guattari: Sebuah Pengantar

120-skizoKarya Deleuze sebetulnya sangatlah kompleks dan bervariasi. Meskipun demikian, sekurang-kurangnya ada prinsip-prinsip dasar tertentu yang agak konsisten menjadi semacam tulang punggung pemikiran-pemikirannya.

Pertama, bagi Deleuze filsafat adalah ontologi, artinya, segala hal yang ada, material maupun ideal, organik atau pun inorganik, objek persepsi maupun objek imajinasi, semua itu “ada” atau “berada” dengan cara dan arti yang sama. Pikiran dan kenyataan itu keberadaannya sama. “Ada” itu univokal. Ide dasar ini memang bukan sesuatu yang baru. Sebagiannya adalah inspirasi dari filsuf abad pertengahan, Duns Scotus, yang kemudian dipertegas lagi secara monumental oleh Spinoza. Tak heran bahwa dalam Qu’est-ce que la philosophie? (What is Philosophy?), Deleuze menganggap Spinoza sebagai “Pangeran para filsuf” dan filsafatnya sebagai “Filsafat yang menjadi daging”, alias filsafat yang mengejawantah dalam tubuh dan dunia. Deleuze hendak memperbaharui cara berpikir macam itu, mengangkat kembali “naturalisme” Spinoza dan Leibniz untuk mengatasi dominasi pola berpikir Cartesian-Kantian. Artinya, alih-alih mencari hukum rasional representasi realitas yang konsisten, Deleuze melihat bahwa sejak awal filsafat dikondisikan oleh kenyataan bahwa kita sudah selalu berpartisipasi secara langsung terhadap realitas, tanpa perantara, tanpa representasi.

Kedua, realitas “ada” yang univokal itu pada dasarnya kreatif, bahkan kreativitas yang tanpa batas. Kreatif artinya: realitas itu terus-menerus menciptakan dan memperbanyak dirinya secara baru, melahirkan banyak peristiwa dan keunikan individual tanpa henti. Dengan kata lain, segala yang “ada” adalah peristiwa-peristiwa penciptaan. Segala konfigurasi sosial dan psikologis, segala bentuk bahasa, setiap kesan, persepsi, bahkan halusinasi, semuanya adalah peristiwa penciptaan. Dan mencipta berarti melahirkan “perbedaan” atau lebih tepat pembedaan diri (differing). Setiap hal, dalam mencipta, mengubah dirinya menjadi berbeda. Perbedaan bagi Deleuze bukanlah seperti dibayangkan Hegel misalnya, yang meyakini bahwa sesuatu itu berbeda karena dibandingkan dengan hal lainnya, yang berfungsi antitetis terhadapnya. Dalam hal ini Deleuze lebih dekat ke pemikiran Bergson, yang meyakini bahwa sesuatu itu berbeda pertama-tama dengan dirinya semula, berbeda karena dalam aliran hidup ia berubah. Suatu pembedaan kreatif, yang muncul dari kekuatan yang menggelegak dari dalam hal itu sendiri. Gagasan macam inilah yang menjadi langgam dasar buku Deleuze yang demikian pelik dan ketat, yaitu: Différence et repetition (1968), yang mencoba membebaskan konsep “perbedaan” dari relasi eksternal, dari kategorisasi “normalisasi” identitas, juga dari kerangka berpikir oposisional, analogi maupun resemblansi. Perbedaan kreatif ini bukanlah sesuatu yang relasional atau pun berasal dari sesuatu yang lain. Ia lebih seperti gerak spiritual atau pemikiran, ala konsepsi Bergson. Pikiran yang dalam gerak aktivitasnya terus-menerus mengembangkan diri menjadi berbeda dari konsep-konsep yang diyakini semula.

Ketiga, Deleuze mengasumsikan bahwa hanya pikiran murnilah terutama yang dapat mencapai kreativitas mutlak atau berkemampuan pembedaan tanpa batas itu. Bila pengada-pengada material dalam proses kreatif itu membutuhkan medium material, maka pengada spiritual menjalani proses kreatif dengan kecepatan mutlak dan dengan medium yang diciptakannya sendiri. Proses penciptaan kreatif pengada material berlangsung melalui teritori, masyarakat, organisme atau pun persepsi; sedang pengada spiritual melahirkan teritori dan peta pada saat yang sama, dalam suatu unsur tunggal: konsepsi. Bagi Deleuze, setiap konsep adalah suatu temuan. Dan akhirnya temuan konseptual sajalah yang bisa tak terbatas, sebab ia tak terkait pada apa pun di luar dirinya. Pada saat tercipta, konsep memposisikan dirinya sendiri sekaligus mendudukkan obyeknya.

Konsekuensi dari cara berpikir macam itu adalah bahwa univositas Ada mengakibatkan pemilahan antara Subyek (yang me-representasi) dan Obyek (yang direpresentasi) menghilang. Hilang pula pemilahan antara hasrat dan obyeknya, bahasa dan dunia acuannya, ungkapan figural dan bahasa literal, dsb. Pemilahan Kantian antara fenomena dan noumena (das Ding an sich yang tak akan bisa diketahui) bagi Deleuze adalah sebuah kesalahan yang berakibat fatal. Bagi Deleuze univositas ontologis menyarankan bahwa realitas hanyalah satu saja, yakni realitas produksi, hasrat, atawa ekspresi. Hanya ada satu jenis produksi: produksi kenyataan (L’ Anti-Oedipus). Distingsi Lacanian antara yang real, yang simbolik dan yang imajiner pun hanyalah tampilan belaka, tidak nyata. Yang nyata adalah realitas langsung, yang tak termediasi, partisipasi yang menyergap, yang paling kentara dalam pengalaman schizofrenik: suatu pengalaman yang paling dekat dan intens tentang produksi kenyataan. Dalam kaitan dengan bahasa, yang menjadi penting lantas bukanlah apa “makna”nya, melainkan apa yang “diakukannya”, intensitas yang memungkinkannya melampaui pengalaman, yang memungkinkannya membukakan pengalaman baru,dst.

Bagi Deleuze hidup adalah gerakan. Sebagai gerakan, hidup mengaktualisasi diri, membuat dirinya berbeda, mengakibatkannya kehilangan kontak dengan sebagian dirinya yang lain, dan dengan itu ia mengalienasi dirinya juga. Maka meskipun segala hal menciptakan dirinya, intensitas kreatifnya tampil dalam bentuk sistem-sistem, yang pada gilirannya justru memenjarakan, bahkan membatalkan, kreativitas itu. (Différence et Répétition). Problem dalam dunia manusia adalah: di satu pihak sebagai ciptaan ia harus bertolak dari sistem-sistem yang telah tercipta, di pihak lain sebagai daya kreatif yang senantiasa berubah dan menjadi, ia harus mencipta ulang itu semua. Dan proses penciptaan ulang itu terutama dimungkinkan oleh filsafat. Filsafat adalah re-orientasi, dari ketidaktahuan sebagai ciptaan ke arah partisipasi kreatif penciptaan realitas. Filsafat membebaskan manusia dari ciptaan menjadi pencipta. Dengan cara itu manusia menjadi kepanjangan kreativitas ilahi, sambil terus-menerus mengatasi keterbatasan bentuk dan keterikatan sintaktisnya dengan dunia, dengan cara abstraksi: mereduksi diri ke dalam garis abstrak. Dan dengan abstraksi itu manusia mencapai imperceptibility, indiscernibility, dan impersonality. Itulah sisi ilahi dalam manusia, yang dimungkinkan oleh hubungan spiritual manusia dengan sang Cahaya, Tuhan. (Cinéma 1). Di sini kita temukan jejak mistisisme Bergson pada Deleuze.

Pada Deleuze, proses intensitas kreatif itu sedemikian hingga cenderung melepaskannya dari segala mediasi organik, semantik maupun psikologis. Proses kreatif “menjadi” itu bahkan cenderung merupakan proses penghilangan dan pe-lepastubuh-an (disembodiment) mahluk penciptanya, menjadi semata-mata proses intensitas kreatif anorganik, gerakan yang mengatasi batas-batas skema senso-motorik. Maka pada akhirnya tak ada apa pun yang ada selain peristiwa gerakan, event: Eventum Tantum. Maka kekuatan absolut penciptaan itu bagi Deleuze paling tampak pada kaum nomad dan Schizo, kaum-kaum yang mengada persis dalam proses gerakan deteritorialisasi terus-menerus. Mereka itulah kelokalan absolut, atau sang absolut yang memanisfestasi diri lewat kelokalan. (A Thousand Plateau). Kalau bagi Deleuze, filsafat Spinoza adalah “filsafat yang menjadi daging”, maka filsafat Deleuze sendiri agaknya mesti disebut filsafat yang akhirnya kehilangan daging, alias “filsafat yang menjadi” saja.
**********

Guattari adalah psikoanalis yang menyambut dengan antusias kerangka berpikir Deleuzian macam itu. Ia melihat proses kreatif produksi dalam kerangka tiga unsur ekologi, yaitu: subyektif, sosial dan natural. Dan paradigma yang digunakannya ditandai dengan istilah-istilah kunci macam schizoanalysis, transversalitas dan chaosmosis.

Dengan kerangka macam itu ia membangun konsep tentang identitas sebagai proses “subyektivasi” yang menyangkut individu, hubungan-hubungan sosial, dan berbagai struktur institusional yang membatasi praktik eksistensial maupun bentuk sosiabilitasnya. Ia menggunakan klinik eksperimental La Borde untuk memperkuat teori-teorinya tersebut. Klinik itu menjadi medan subyektivasi kolektif, dimana individu dapat terlibat secara aktif mendefinisi ulang dirinya dalam hubungan dengan partisipasi mereka dalam kelompok interaktif di sana.

Mengikuti jalur psikoanalisis Freudian/Lacanian, Guattari melihat “subyektivasi” sebagai sebuah proses dan tugas: suatu proses produksi dan konstruksi diri melalui ketentuan kekuatan hasrat yang tak disadari. Tapi manakala secara tradisional hasrat sering dikaitkan dengan pengebirian atau kekurangan, Guattari melihat sisi lebih positif dari hasrat, yaitu bahwa hasrat juga terkait erat pada produktivitas dan keterhubungan. Maka konsepnya tentang kedirian pun tak lagi terikat pada mitos hubungan kekeluargaan ala kerangka Borjuis, tidak juga dibatasi oleh ontologi kekurangan/kehilangan. Itu sebabnya dalam kolaborasi pertamanya dengan Deleuze, seperti tertuang dalam buku mereka Anti-Oedipus, ketaksadaran dilihatnya sebagai terdiri dari “mesin-mesin hasrat” yang terus- menerus membongkar dan mengkombinasi dirinya kembali dalam relasi-relasi sintetik sekaligus disjungtif. Dan lantas subyektivasi dilihatnya sebagai penggabungan kreatif unsur-unsur menjadi kesatuan koheren, sesuai dengan kekuatan sintetis “produksi-hasrat” yang melatarbelakanginya. Kekuatan-kekuatan itu menyatu sesuai dengan hubungan-hubungan konektif sementara yang diatur secara sosial. Maka struktur pertama yang menentukan subyek adalah medan sosial yang mensituasikan subyek tersebut. Keluarga termasuk di dalamnya, namun hanya sebagai perantara.

Bagi Guattari –seperti juga bagi Foucault dan Deleuze- subyek dibentuk oleh relasi-relasi sosialnya. Subyek sudah selalu “subyek kelompok”, maka pemilahan individu dan masyarakat baginya tidak relevan. Namun Guattari membedakan antara “subyek kelompok”(Group Subject) dan “kelompok yang dipersubyek” (Subjected Group). “Kelompok yang dipersubyek”, identitas dan koherensinya adalah sesuatu yang dikenakan dari luar lewat proses homogenisasi atau standarisasi. Maka identitas macam ini dengan sendirinya sejak awal memangkas heterogenitas dan memenjarakan kreativitas. Dalam kerangka ini, kesadaran-diri lantas merupakan fenomena dominasi eksternal. Sedangkan “Subyek kelompok” memiliki sumber internal bagi keutuhannya, sebab unsur-unsurnya mengidentifikasi diri berdasarkan komitmen terhadap proyek yang sama. Tapi karena proyek-proyek itu berragam dan banyak, menyangkut berbagai organisasi, maka subyektivitas macam ini selalu dinamis dan menolak penyeragaman unsur-unsurnya. Identitas subyek macam ini selalu dalam proses, senantiasa beradaptasi dengan perkembangan dan perubahan proyek identifikasinya.

Guattari tentu lebih cenderung mementingkan subyek-kolompok yang belakangan itu. Itu sebabnya ia menaruh perhatian serius pada ihwal pembentukan subyek, dan destabilisasi serta transformasi subyek ala post-strukturalis. Terapi schizoanalisis, lantas bukanlah sekedar urusan interpretasi, melainkan suatu strategi untuk membongkar dan membebaskan subyek dari keterkungkungannya menuju kemungkinan pembentukan diri baru. Strategi itu misalnya dengan cara memasukan pasien ke dalam lingkungan baru yang asing dan dirangsang untuk membuat hubungan-hubungan baru. Dengan cara itu bagian diri yang terblokir dibuka dan dimungkinkanlah hubungan sintetik hasrat yang baru.

Teori subyektivasi transformatif itu menggiring Guattari pada analisis represi institusional, yang lantas menghasilkan teori revolusi sosial praktis. Bagi Guattari, hubungan-hubungan sosial dan institusi yang menyangganya, termasuk wacana dan bahasa, adalah peralatan subyektivasi. Struktur sosial mengatur kekuatan-kekuatan hasrat, dan dengan itu membatasi interaksi individu dan kreativitas. Yang penting lalu bahwa masyarakat perlu selalu menganalisis bagaimana institusi mereka mengkodifikasi dan menekan hasrat, agar dengan itu transformasi kreatif subyek lebih dimungkinkan. Dan yang kini perlu diwaspadai, menurut Guattari adalah bagaimana kapitalisme global menyeragamkan segala kemungkinan subyektivasi dan mesin hasrat partikular ke dalam ukuran ekonomi universal. Tendensi Kapitalisme yang berbahaya adalah bahwa aliran hasrat dibebaskan demi ekuivalensi, dan siasat despotisme penanda dalam pasar simbol kapitalis akhirnya membungkam segala kemungkinan yang dikandung oleh bahasa-bahasa dan ungkapan lokal (chaosmosis).

Dalam rangka itu Guattari akhirnya melepaskan diri dari tradisi strukturalis dan membangun teori semiotik sendiri. Dia berusaha menampilkan determinasi-determinasi sosial-politis yang tak disadari atas proses pemaknaan, suatu wilayah kolektif di balik bentuk-bentuk representasi. Baginya tanda (signs) diproduksi dari massa-pikiran yang awalnya tak berbentuk, lantas diberi bentuk lewat organisasi dan disiplin, dimana konsistensi ungkapan mewujudkan isi. Representasi bukanlah prinsip pengorganisasian, bukan pula totalitas makna, melainkan suatu struktur semiotik yang dikenakan pada medan a-signifying awal yang sebenarnya khaotik. Medan a-signifying purba itulah yang selalu memungkinkan segala tatanan representasi semiotik baku di-destabilisasi.

Ini kemudian berkaitan dengan idenya tentang “revolusi mikropolitik”. Tugas utama revolusi mikropolitik adalah membangun organisasi yang senantiasa memperbaharui dirinya kembali. Dalam rangka ini pemilahan macam proletariat dan borjuis sudah tak lagi relevan. Yang dibutuhkan adalah ‘multisentrisme fungsional” yang mampu mengartikulasikan dimensi-dimensi kritik sosial yang berragam dan merumuskan tindakan-tindakan transformatif di wilayah tiga register ekologi: diri, masyarakat dan alam. Tujuan utamanya adalah: membangun setting institusional yang memungkinkan subyek-kelompok senantiasa mampu memperkuat singularitas mereka dan melawan kekuatan-kekuatan represif. “Chaosmosis” adalah siasat yang perlu dikenali dalam rangka transformasi sosial macam itu. Chaosmosis adalah: proses bagaimana organisasi yang kompleks merupakan imposisi bentuk atas jaringan-jaringan kekuatan awal dan berfungsi memenjarakan gerakan-gerakan khaotiknya ke dalam hubungan-hubungan aktual yang stabil dan teratur. Organisasi itu perlu di-rekonfigurasi kembali lewat proses kreatif yang mengkombinasi ulang unsur-unsurnya dengan pengalaman nyata, mengangkat kesadaran atas proses-proses subyektivasi dan pengelolaan hasrat, dan menciptakan jaringan-jaringan baru yang mendukung kreativitas individu.

Buku yang anda pegang ini adalah perkenalan awal lebih jauh dan rinci atas sebagian pemikiran Deleuze dan Guattari, terutama sehubungan dengan sentralitas hasrat. Selamat menjelajahinya.**

Kata pengantar Bambang Sugiharto untuk buku Skizoanalisis Deleuze-Guattari: Sejarah Teritorialisasi Hasrat dan Pengantar Menuju Subkek Non-fasis (Agustinus Hartono, Jalasutra, 2007).

Tulis sebuah Komentar